Tugas Kelompok Psikologi Manajemen (Makalah)
Matakuliah Psikologi Manajemen Semester 7 di Kelas 3PA19
1. Bagus Aditya (11513605)
2. Endah Fathonah (12512492)
3.Firman Yulyansyah (13513519)
4.Gemi Arthati (13513674)
5.Putri Indri Yani (15512766)
Dipostkan 2 Oktober 2016
Psikologi Manajemen
MAKALAH
1.
PSIKOLOGI
MANAJEMEN
a.
Definisi
Manajemen
Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan
sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan
(Stoner).
Psikologi
manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur / me-manage sumber daya yang
ada untuk memenuhi kebutuhan.
Kaitan manajemen dengan
psikologi adalah dengan ditemukan dan
dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM ternyata merupakan
yang terpenting dari ketiga modal kerja perusahaan manapun. Pasalnya, ilmu
psikologi yg memang berpusat pada manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor
internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb dengan
berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang
setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan.
b. Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang artinya seni
melaksanakan dan mengatur.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Manajemen adalah orang yg
mengatur pekerjaan atau kerja sama di antara berbagai kelompok atau sejumlah
orang untuk mencapai sasaran atau orang yg berwenang dan bertanggung jawab
membuat rencana, mengatur, memimpin, dan mengendalikan pelaksanaannya untuk
mencapai sasaran tertentu.
Menurut Mary Parker Follet, manajemen sebagai
seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa
seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai
tujuan organisasi
c. Definisi
tentang manajemen menurut ahli, diantaranya:
·
Prof.
Eiji Ogawa
Manajemen adalah perencanaan, pengimplementasian dan pengendalian kegiatan-kegiatan termasuk system pembuatan barang yang dilakukan oleh organisasi usaha dengan terlebih dahulu telah menetapkan sasaran-sasaran untuk kerja yang dapat disempurnakan sesuai dengan kondisi lingkungan yang berubah.
Manajemen adalah perencanaan, pengimplementasian dan pengendalian kegiatan-kegiatan termasuk system pembuatan barang yang dilakukan oleh organisasi usaha dengan terlebih dahulu telah menetapkan sasaran-sasaran untuk kerja yang dapat disempurnakan sesuai dengan kondisi lingkungan yang berubah.
- Mary
Parker Follet
Manajemen adalah seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.
- James
A.F. Stoner
Manajemen dapat diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, kepimpinan, dan pengawasan upaya (usaha-usaha) anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
- William
H. Newman
Manajemen adalah fungsi yang berhubungan dengan
memperoleh hasil tertentu melalui orang lain.
·
Harold Koontz
Dalam bukunya yang berjudul“The Management Theory Jungle” menganggap pengertian
manajemen adalah seni menyelesaikan suatu pekerjaan melalui dan
dengan beberapa orang yang tergabung dalam suatu kelompok formal
yang terorganisir. Harold Koontz & O’Dannel dalam buku yang
berjudul“Principles of Management” mengemukan, “Manajemen adalah berhubungan
dengan percapaian sesuatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang-orang
lain”.
·
George
R. Terry
Dalam buku yang berjudul“Principles of Management” memberikan
definisi:“Manajemen adalah suatu proses yang membedakan atas
perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, pelaksanaan dan
pengawasan, dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni, agar dapat
menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya”. Manajemen adalah
pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan
orang lain (1994).
·
H.B.
Siswanto
Berpendapat bahwa manajemen adalah seni dan ilmu dalam
perencanaan, pengorganisasian, pemotivasian, dan pengendalian terhadap
orang dan mekanisme kerja untuk mencapai tujuan.
·
Ricky
W. Griffin
Manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian,
pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai
sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat
dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa
tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai
dengan jadwal.
- Drs. Oey
Liang Lee
Manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan pengorganisasian, penyusunan,
pengarahan dan pengawasan daripada sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
·
Renville Siagian
Manajemen adalah suatu bidang usaha yang bergarak dalam bidang jasa
pelayanan dan dikelola oleh para tenaga ahli terlatih serta berpengalaman
d.
Tujuan Psikologi Manajemen I
llmu psikologi berpusat pada
manusia, dan mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap
kerja, keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa
dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan. Dengan adanya psikologi manajemen, kinerja SDM akan
terkontrol dengan baik dan tingkat produktivitas meningkat
e. Jenis-Jenis
Manajemen
1.
Manajemen
Sumber Daya Manusia (SDM)
Kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya untuk memperoleh SDM yang terbaik
bagi bisnis yang kita jalankan dan bagimana SDM yang terbaik tersebut dapat di
pelihara dan tetap bekerja bersama kita dengan kualitas pekerjaan yang
senantiasa konstan ataupun bertambah
2.
Manajemen
Operasional
Kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya untuk menghasilkan produk yang
sesuai dengan standar yang ditetapkan berdasarkan keinginan konsumen dengan
teknik produksi yang seefesien mungkin, dari mulai pilihan lokasi produksi
hingga produksi akhir yang dihasilkan dalam proses produksi.
3.
Manajemen
Pemasaran
Kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk
mengidentifikasi apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh konsumen dan bagaimana
cara pemenuhannya dapat diwujudkan.
4.
Manajemen
Keuangan
Kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk
memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan mampu mencapai tujuannya secara
ekonomis yaitu diukur berdasarkan profit. Tugas manajemen keuangan diantaranya
merencanakan dari mana pembiayaan bisnis diperoleh dan dengan cara bagaimana
modal yang telah diperoleh dialokasikan secara tepat dalam kegiatan bisnis yang
dijalankan.
2.
ORGANISASI
a. Definisi Organisasi
Organisasi dapat diartikan sebagai suatu alat atau wadah kerjasama untuk
mencapai tujuan bersama dengan pola tertentu ,yang perwujudannya memiliki
kekayaan baik fisik maupun non fisik.
Menurut Rosenzweig,organisasi dapat dipandang sebagai : (1) Sistem
sosial,yaitu orang-orang dalam kelompok,(2) integrasi atau kesatuan dari
aktivitas-aktivitas orang-orang yang bekerja sama dan (3) orang-orang yang
berorientasi dan berpedoman pada tujuan bersama.Sedangkan Allen, berpendapat
bahwa organisasi adalah suatu proses identifikasi dan pembentukan serta
pengelompokan kerja , mendefinisikan dan mendelegasikan wewenang dan tanggung
jawab dan menetapkan hubungan-hubungan dengan maksud untuk memungkinkan
orang-orang bekerja sama secara efektif dalam menuju tujuan yang ditetapkan.
Karakteristik
Organisasi (Nicholas Henry, 1988 : 73):
- Punya maksud tertentu, dan merupakan kumpulan
berbagai manusia
- Punya hubungan sekunder (impersonal)
- Punya tujuan yang khusus dan terbatas
- Punya kegiatan kerjasama pendukung
- Terintegrasi dalam sistem sosial yang lebih luas
- Menghasilkan barang dan jasa untuk lingkungannya dan
sangat terpengaruh atas setiap perubahan lingkungan.
b. Dimensi Desain Organisasi
Menurut Richard L. Daft (1998:15), dimensi desain
organisasi terdiri dari dua tipe yaitu:
1.
Dimensi
Struktural, yaitu dimensi yang menggambarkan karakteristik internal dari
organisasi dan menciptakan suatu dasar untuk mengukur dan membandingkan
organisasi.
2.
Dimensi
Kontekstual, yaitu dimensi yang menggambarkan keseluruhan dari suatu
organisasi. Dimensi ini memperlihatkan susunan organisasi yang mempengaruhi dan
membentuk suatu dimensi struktural organisasi
c. Bentuk Desain Organisasi
Bentuk dari desain organisasi ini ditentukan oleh tingkat formalisasi yang
dilakukan, tingkat sentralisasi dalan organisasi, kualifikasi karyawan, span of
control yang ada serta komunikasi dan koordinasi yang ada dalam organisasi
(Robbins,2003:136).
Bentuk desain
organisasi terdiri dari:
1. Organik
Pada organisasi yang berbentuk organik, maka dalam organisasi ini terdapat tingkat formalisasi
yang rendah, terdapat tingkat sentralisasi yang rendah, serta diperlukan
training dan pengalaman untuk melakukan tugas pekerjaan. Selain itu terdapat
span of control yang sempit serta adanya komunikasi horisontal dalam
organisasi.
2.
Mostly
Organic
Pada organisasi yang berbentuk mostly organic, formalisasi dan sentralisasi yang diterapkan berada di tingkat moderat. Selain itu diperlukan pengalaman kerja yang banyakdalam organisasi ini. Terdapat span of control yang bersifat antara moderat sampai lebar serta lebih banyak komunikasi horisontal yang bersifat verbal dalam organisasi tersebut.
Pada organisasi yang berbentuk mostly organic, formalisasi dan sentralisasi yang diterapkan berada di tingkat moderat. Selain itu diperlukan pengalaman kerja yang banyakdalam organisasi ini. Terdapat span of control yang bersifat antara moderat sampai lebar serta lebih banyak komunikasi horisontal yang bersifat verbal dalam organisasi tersebut.
3.
Mechanistic
Pada organisasi yang berbentuk mechanistic, terdapat ciri-ciri yaitu: adanya tingkat formalisasi yang tinggi, tingkat sentralisasi yang tinggi, training atau pengalaman kerja yang sedikit atau tidak terlalu penting, ada span of control yang lebar serta adanya komunikasi yang bersifat vertikal dan tertulis.
Pada organisasi yang berbentuk mechanistic, terdapat ciri-ciri yaitu: adanya tingkat formalisasi yang tinggi, tingkat sentralisasi yang tinggi, training atau pengalaman kerja yang sedikit atau tidak terlalu penting, ada span of control yang lebar serta adanya komunikasi yang bersifat vertikal dan tertulis.
4.
Mostly
Mechanistic
Pada jenis organisasi ini, terdapat ciri-ciri yaitu: adanya formalisasi dan sentralisasi pada tingkat moderat, adanya training-training yang bersifat formal atau wajib, span of control yang bersifat moderat serta terjadi komunikasi tertulis maupun verbal dalam organisasi tersebut.
Pada jenis organisasi ini, terdapat ciri-ciri yaitu: adanya formalisasi dan sentralisasi pada tingkat moderat, adanya training-training yang bersifat formal atau wajib, span of control yang bersifat moderat serta terjadi komunikasi tertulis maupun verbal dalam organisasi tersebut.
3.
DEFINISI
KOMUNIKASI
Komunikasi
merupakan hal yang sangat fundamental dalam kehidupan. Sebagai makhluk sosial,
manusia senantiasa berhubungan dengan manusia lainnya. Ia ingin mengetahui
lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya.
Rasa ingin tahu itu memaksa manusia untuk berkomunikasi (Dewi, 2007).
Porter dan Samovar
(dalam Mulyana dan Rakhmat, 2006) menyebutkan komunikasi berhubungan dengan
perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan
manusia lainnya. Manusia membutuhkan
hubungan sosial dengan orang-orang sekitarnya, dan kebutuhan tersebut terpenuhi
melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan
manusia.
Menurut Schramm (dalam
Dewi, 2007) tanpa komunikasi , tidak mungkin terbentuk suatu masyarakat,
sebaliknya tanpa masyarakat, manusia tidak mungkin dapat mengembangkan
komunikasi.
Istilah komunikasi
sesungguhnya berpangkal pada perkataan latin communis yang artinya membuat kebersamaan atau membangun
kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Komunikasi
juga memiliki akar kata berbahasa latin communico
yang artinya membagi (Stuart dalam Dewi, 2007).
Psikologi menyebut
komunikasi pada penyampaian energi dari alat-alat indera ke otak, pada
peristiwa penerimaan dan pengolahan informasi, pada proses saling pengaruh
diantara berbagai sistem dalam diri organisme dan diantara organisme (Rakhmat,
1999).
Komunikasi
didefinisikan sebagai suatu proses dinamik transaksional yang mempengaruhi
perilaku sumber dan penerimanya dengan sengaja menyandi (to code) perilaku mereka untuk menghasilkan pesan yang mereka
salurkan lewat suatu saluran (chanel)
guna merangsang atau memperoleh sikap atau perilaku tertentu (Porter dan
Samovar, dalam Mulyana dan Rakhmat, 2006).
Dewi (2007) berpendapat
bahwa komunikasi pada dasarnya dapat dipandang dari berbagai dimensi. Jika
dipandang sebagai proses, komunikasi merupakan kegiatan pengiriman dan
penerimaan pesan yang berlangsung secara dinamis. Secara simbolik, komunikasi
menggunakan berbagai macam symbol yang dinyatakan dalam bentuk nonverbal
(isyarat, gerak, dan ekspresi) maupun verbal verbal (bahasa lisan dan
tertulis). Sementara sebagai sistem , komunikasi terdiri atas unsure-unsur yang
saling bergantung dan merupakan satu kesatuan yang integratif.
Dari uraian diatas di
definisikan bahwa komunikasi adalah
penyampaian energi dari alat-alat indera ke otak dan merupakan proses
penerimaan dan pengolahan informasi yang berbentuk verbal dan nonverbal yang
berlangsung secara dinamis dan disalurkan lewat suatu saluran untuk
mempengaruhi perilaku sumber dan penerimanya.
4.
DIMENSI
KOMUNIKASI
Dalam model komunikasi
David K Berlo (dalam Dewi 2007) dimensi-dimensi utama komunikasi terdiri atas
SMCR, yakni Source (sumber atau
penerima), Message (pesan atau
informasi), Chanel (saluran atau
media) dan Receiver (penerima).
Disamping itu terdapat tiga unsur lain yaitu: Feedback (tanggapan balik), efek dan lingkungan. Setiap dimensi
tersebut saling bergantung satu sama lain dan memiliki peranan penting dalam
membangun proses komunikasi.
a.
Sumber
Semua peristiwa
komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pengirim informasi. Sumber informasi
terdiri dari satu orang atau kelompok misalnya partai, organisasi atau lembaga.
Sumber sering disebut komunikator, source,
sender atau encoder.
b.
Pesan
Pesan adalah sesuatu
yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara
tatap muka atau melalui media komunikasi. Pesan sering disebut massage, content, atau information.
c.
Saluran dan Media
Saluran komunikasi
terdiri atas komunikasi lisan, tertulis dan elektronik. Media yang dimaksud
disini adalah alat atau sarana yang digunakan untuk memudahkan pesan dari
pengirim kepada penerima.
d.
Penerima
Penerima adalah pihak
yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh pengirim. Penerima bisa terdiri
atas satu orang atau kelompok. Penerima merupaka elemen penting dalam proses
komunikasi karena menjadi sasaran dalam komunikasi. Penerima sering disebut
dengan berbagai istilah, antara lain khalayak, sasaran, komunikasi, audiens,
atau receiver.
e.
Umpan Balik
Umpan atau tanggapan
balik merupakan respons atau reaksi yang diberikan oleh penerima. Dalam hal
pesan belum sampai kepada penerima, tanggapan balik dapat pula berasal dari
media. Umpan balik bisa berupa data, pendapat, komentar, atau saran.
f.
Efek
Efek atau pengaruh
merupakan perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan
penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh bisa terjadi dalam bentuk
perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku.
g.
Lingkungan
Lingkungan atau situasi
dalah faktor-faktor tertentu yang dapat mempengaruhi jalannya komunikasi.
Lingkungan dapat berupa:
-
Lingkungan fisik (misalnya letak
geografis dan jarak).
-
Lingkungan sosial budaya (misalnya
bahasa, adat istiadat dan status sosial).
-
Lingkungan psikologis (pertimbangan
kejiwaan).
-
Dimensi waktu
Porter dan Samovar
(dalam Mulyana dan Rakhmat, 2006) mengidentifikasikan delapan dimensi dalam
komunikasi:
a.
Sumber (source)
Suatu sumber adalah
orang yang mempunyai suatu kebutuhan untuk berkomunikasi. Kebutuhan ini mungkin
berkisar dari kebutuhan sosial untuk diakui sebagai individu hingga kebutuhan
berbagi informasi dengan orang lainnya.
b.
Encoding
Encoding
adalah suatu kegiatan seseorang untuk memilih dan merancang perilaku verbal dan
non verbal yang sesuai dengan aturan dan tata bahasa dan sintaksis guna
menciptakan pesan.
c.
Pesan (Massage).
Suatu pesan terdiri
dari lambing verbal dan non verbal yang mewakili perasan dan pikiran sumber
pada suatu saat dan tempat tertentu. Peasan adalah apa yang harus sampai dari
sumber ke penerima bila sumber bermaksud mempengaruhi penerima
d.
Saluran (Chanel).
Saluran yang menjadi
penghubung antara sumber dan penerima. Suatu saluran adalah alat fisik yang
memindahkan pesan dari sumber ke penerima.
e.
Penerima (Receiver).
Penerima adalah orang
yang menerima pesan dan sebagai akibatnya menjadi terhubungkan dengan sumber
pesan.
f.
Penyandian Balik (Decoding).
Proses internal
penerima dan pemberian makna kepada perilaku sumber yang mewakili perasaan dan
pikiran sumber.
g.
Respon Penerima (Receiver Response).
Apa yang dilakukan
penerima setelah menerima pesan. Komunikasi dianggap berhasil bila respon
penerima mendekati apa yang dikehendaki oleh sumber yang menciptakan pesan.
h.
Umpan Balik (Feedback).
Umpan balik adalah
informasi yang tersedia bagi sumber yang memungkinkannya menilai keefektifan
komunikasi yang dilakukannya untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian atau
perbaikan dalam komunikasi selanjutnya.
Dari uraian diatas
dapat disimpulkan bahwa dimensi-dimensi komunikasi adalah sumber, penerima,
pesan, saluran, encoding, decoding, respon,
umpan balik, efek dan lingkungan.
5. DEFINISI
PENGARUH
Menurut Poerwordaminto (dalam kurniawati), pengaruh berarti “daya yang ada
atau timbul dari suatu lorong, benda atau sebagainya”. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (2005: 849), “Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari
sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau
perbuatan seseorang. Sementara itu, Surakhmad (1982:7) menyatakan bahwa pengaruh adalah kekuatan yang muncul dari
suatu benda atau orang dan juga gejala dalam yang dapat memberikan perubahan
terhadap apa-apa yang ada di sekelilingnya.
Jadi dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengaruh
merupakan suatu daya atau kekuatan yang timbul dari sesuatu, baik itu orang
maupun benda serta segala sesuatu yang ada di alam sehingga mempengaruhi
apa-apa yang ada di sekitarnya.
Definisi pengaruh
dari beberapa para ahli :
Menurut Albert R. Roberts & Gilbert, pengaruh adalah wajah kekuasaan
yang diperoleh oleh orang ketika mereka tidak memiliki kewenangan untuk
mengambil keputusan.
Menurut M. Suyanto, pengaruh merupakan nilai kualitas suatu iklan melalui
media tertentu.
Menurut Norman Barry, pengaruh adalah suatu tipe kekuasaan yang jika
seorang yang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan
terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sanksi yang terbuka tidak
merupakan motivasi yang mendorongnya.
Menurut Ertram Johannes Otto Schrieke, pengaruh merupakan bentuk dari
kekuasaan yang tidak dapat diukur kepastiannya.
Dari pendapat para ahli di atas bahwa pengaruh adalah bentuk dari kekuasaan
yang diperoleh ketika seseorang tidak memiliki kewenangan untuk mengambil
keputusan.
6.
KUNCI-KUNCI
PERUBAHAN TINGKAH LAKU
Perubahan merupakan peralihan kondisi yang tadinya buruk, menjadi baik.
Masyarakat yang berubah adalah masyarakat yang terdiri dari individu
berkepribadian (Personality) baik. Personality tidak dibentuk dari performancedan
style seseorang, melainkan dari adanya daya intelektual dan perbuatan.
Selanjutnya,tidak hanya membentuk saja, tapi juga disertai upaya menjadikan
personality tersebut berkualitas.
Kunci perubahan masyarakat adalah membentuk daya intelektual dan perbuatan
yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sehingga terjadilah perubahan
perilaku yang secara otomatis diikuti dengan perubahan masyarakat.
Perilaku yang akan menjadi kunci perubahan di masyarakat adalah sikap yang
mampu melalui berbagai benturan dengan gemilang, adanya kepercaayaan diri tanpa
batas, dan tekad untuk terus berjuang hingga titik nadi. Perubahan masyarakat
akan berimplikasi terhadap perubahan individu, karena didalamnya ada interaksi sebagai
kontrol sosial yang dapat mendidik manusia.
Perubahan perilaku adalah penerapan yang terencana dan sistematis dari
prinsip belajar yang telah ditetapkan untuk mengubah perilaku mal adaptif
(Fisher & Gochros, 1975).
Menurut WHO, yang dikutip oleh Notoatmodjo (1993), perubahan perilaku
dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu :
a. Perubahan
alamiah (natural change), ialah perubahan yang dikarenakan perubahan pada
lingkungan fisik, sosial, budaya ataupun ekonomi dimana dia hidup dan
beraktifitas.
b. Perubahan
terencana (planned change), ialah perubahan ini terjadi, karena memang
direncanakan sendiri oleh subjek.
c. Perubahan
dari hal kesediaannya untuk berubah (readiness to change), ialah perubahan yang
terjadi apabila terdapat suatu inovasi atau program-program baru, maka yang
terjadi adalah sebagian orang cepat mengalami perubahan perilaku dan sebagian
lagi lamban. Hal ini disebabkan setiap orang mempunyai kesediaan untuk berubah
yang berbeda-beda.
Tim ahli WHO (1984), menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu
berperilaku ada empat alasan pokok, yaitu :
a.
Pemikiran
dan perasaan Bentuk pemikiran dan perasaan ini adalah pengetahuan, kepercayaan,
sikap dan lain-lain.
b.
Orang
penting sebagai referensi Apabila seseorang itu penting bagi kita, maka apapun
yang ia katakan dan lakukan cendrung untuk kita contoh. Orang inilah yang
dianggap kelompok referensi seperti : guru, kepala suku dan lain-lain.
c.
Sumber-sumber
daya yang termasuk adalah fasilitas-fasilitas misalnya : waktu,
uang, tenaga kerja, ketrampilan dan pelayanan. Pengaruh sumber daya terhadap
perilaku dapat bersifat positif maupun negatif.
d.
Kebudayaan
perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan pengadaan
sumber daya di dalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup yang
disebut kebudayaan. Perilaku yang normal adalah salah satu aspek dari
kebudayaan dan selanjutnya kebudayaan mempunyai pengaruh yang dalam terhadap
perilaku. Dari uraian tersebut diatas dapat dilihat bahwa, alasan seseorang
berperilaku. Oleh sebab itu, perilaku yang sama diantara beberapa orang dapat
berbeda-beda penyebab atau latar belakangnya.
7. BAGAIMANA MEMPENGARUHI ORANG LAIN
Cara mempengaruhi orang
lain dengan dasar Pendekatan Komunikasi Persuasi dikemukakan oleh Aristotle
yang menyatakan terdapat 3 pendekatan dasar dalam komunikasi yang mampu
mempengaruhi orang lain, yaitu;
- Logical
argument (logos), yaitu penyampaian
ajakan menggunakan argumentasi data-data yang ditemukan. Hal ini telah
disinggung dalam komponen data.
- Psychological/
emotional argument (pathos), yaitu
penyampaian ajakan menggunakan efek emosi positif maupun negatif.
Misalnya, iklan yang menyenangkan, lucu dan membuat kita berempati
termasuk menggunakan pendekatan psychological argument dengan efek emosi
yang positif. Sedangkan iklan yang menjemukan, memuakkan bahkan membuat
kita marah termasuk pendekatan psychological argument dengan efek emosi
negatif.
- Argument
based on credibility (ethos), yaitu ajakan
atau arahan yang dituruti oleh komunikate/ audience karena
komunikator mempunyai kredibilitas sebagai pakar dalam bidangnya. Contoh,
kita menuruti nasehat medis dari dokter, kita mematuhi ajakan dari seorang
pemuka agama, kita menelan mentah-mentah begitu saja kuliah dari dosen.
Hal ini semata-mata karena kita mempercayai kepakaran seseorang dalam
bidangnya.
Menurut Burgon & Huffner (2002), terdapat
beberapa pendekatan yang dapat dilakukan agar komunikasi persuasi menjadi lebih
efektif. Maksudnya lebih efektif yaitu agar lebih berkesan dalam mempengaruhi
orang lain. Beberapa pendekatan itu antaranya;
- Pendekatan
berdasarkan bukti, yaitu mengungkapkan data atau fakta yang terjadi sebaga
bukti argumentatif agar berkesan lebih kuat terhadap ajakan.
- Pendekatan
berdasarkan ketakutan, yaitu menggunakan fenomena yang menakutkan bagi
audience atau komunikate dengan tujuan mengajak mereka menuruti pesan yang
diberikan komunikator. Misalnya, bila terjadi kejadian luar biasa (KLB)
demam berdarah maka pemerintah dengan pendekatan ketakutan dapat
mempersuasi masyarakat untuk mencegah DBD.
- Pendekatan
berdasarkan humor, yaitu menggunakan humor atau fantasi yang bersifat lucu
dengan tujuan memudahkan masyarakat mengingat pesan karena mempunyai efek
emosi yang positif. Contoh, iklan-iklan yang menggunakan bintang comedian
atau menggunakan humor yang melekat di hati masyarakat.
- Pendekatan
berdasarkan diksi, yaitu menggunakan pilihan kata yang mudah diingat
(memorable) oleh audience/komunikate dengan tujuan membuat efek emosi
positif atau negatif.
8.
WEWENANG
Wewenang adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain
untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu.
Secara klasik, wewenang dimiliki oleh atasan dan bawahan berkewajiban
mematuhinya. Kondisi ini dapat menimbulkan kekuasaan yang sewenang-wenang.
Pandangan pengakuan berdasarkan adanya pengakuan dari seseorang yang
dipengaruhi terhadap orang lain yang mempengaruhi mereka. Dengan demikian,
dalam lingkup sempit, wewenang yang sah belum tentu memperoleh pengakuan orang
lain.
Pengertian wewenang terutama adalah mengenai pangkat, peranan dan posisi
yang resmi sebagai alat untuk mengendalikan dan mempengaruhi perilaku atau
pribadi-pribadi lain. Wewenang adalah suatu alat untuk membatasi perilaku
(sekalipun jika pembatasan itu menimbulkan frustasi), untuk menciptakan
keserbasamaan dengan jalan meratakan perbedaan individual. Wewenang adalah
suatu alat yang penting dan efisien sebab wewenang mempunyai keuntungan seperti
senapan pemburu. Wewenang sebagai suatu senjata yang membatasi, yang terbuka
dan langsung.
Penggunaan wewenang secara
bijaksana merupakan faktor kritis bagi efektevitas organisasi. peranan pokok
wewenang dalam fungsi pengorganisasian, wewenang dan kekuasaan sebagai metoda
formal, dimana manajer menggunakannya untuk mencapai tujuan individu maupun
organisasi. Wewenang formal tersebut harus di dukung juga dengan dasar-dasar
kekuasaan dan pengaruh informal. Manajer perlu menggunakan lebih dari wewenang
resminya untuk mendapatkan kerjasama dengan bawahan mereka, selain juga
tergantung pada kemampuan ilmu pengetahuan, pengalaman dan kepemimpinan mereka.
Weber menyebut wewenang sebagai wewenang yang legal dan sah. Weber juga membagi
wewenang menjadi wewenang kharismatik, rasional, dan tradisional.
Menurut Edward E. Sampson, terdapat
perspektf yang berpusat pada personal dan perspektif yang berpusat pada
situasi. Perspektif yang berpusat pada personal mempertanyakan faktor-faktor
internal apakah, baik berupa instik, motif, kepribadian, sistem kognitif yang
menjelaskan perilaku manusia.
Unsur yang ada di
dalam wewenang :
a.
Wewenang
ditanamkan pada posisi seseorang. Seseorang mempunyai wewenang karena posisi
yang diduduki, bukan karena karakteristik pribadinya.
b.
Wewenang
tersebut diterima oleh bawahan. Individu pada posisi wewenang yang sah
melaksanakan wewenang dan dipatuhi bawahan karena dia memiliki hak yang sah.
c. Wewenang digunakan secara vertikal. Wewenang mengalir
dari atas ke bawah mengikuti hierarkii organisasi.
Wewenang (Authority) merupakan syaraf yang berfungsi sebagai penggerak dari
pada kegiatan-kegiatan. Wewenang yang bersifat informal, untuk mendapatkan
kerjasama yang baik dengan bawahan. Disamping itu wewenang juga tergantung pada
kemampuan ilmu pengetahuan, pengalaman dan kepemimpinan. Wewenang berfungsi
untuk menjalankan kegiatan yang ada dalam organisasi. Wewenang dapat diartikan
sebagai hak untuk memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan
sesuatu agar tujuan dapat tercapai. Pengorganisasian (Organizing) merupakan
proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi,
sumber daya-sumber daya yang dimilikinya dan lingkungan yang melingkupinya.
T. Hani Handoko membagi dua pandangan yang saling berlawanan mengenai
sumber wewenang:
1.
Teori
Formal(Pandangan klasik): wewenang adalah dianugrahkan ; wewenang ada karena
seseorang diberikan atau dilimpahkan hal tersebut. Pandangan mengangap bahwa
wewenang berasal dari tingkat masyarakat yang sangat tinggi dan kemudian secara
hukum diturunkan dari tingkat ketingkat.
2.
Teori
Penerimaan (acceptance theory of authority): berpendapat bahwa wewenang
seseorang timbul hanya bila hal itu diterima oleh kelompok atau individu kepada
siapa wewenang tersebut dijalankan dan ini tidak tergantung pada penerima (
reciver).
Wewenang Lini, Staff dan Fungsional
1. Wewenang lini
Adalah wewenang dimana atasan
melakukannya atas bawahannya langsung. Yaitu atasan langsung memberi wewenang
kepada bawahannya, wujudnya dalam wewenang perintah dan tercermin sebagai
rantai perintah yang diturunkan ke bawahan melalui tingkatan organisasi.
2. Wewenang staff
Adalah hak yang dipunyai oleh
satuan-satuan staf atau para spesialis untuk menyarankan, memberi rekomendasi,
atau konsultasi kepada personalia ini. Kualifikasi yang harus dipenuhi oleh
orang yang duduk sebagai taf yaitu dengan menganalisa melalui metode kuisioner,
metode observasi, metode wawancara atau dengan menggabungkan ketiganya.
Baishline mengajukan enam pokok kualifikasi yang harus dipengaruhi oleh
seorang staf yaitu :
a.
Pengetahuan
yang luas tempat diamana dia bekerja
b.
Punya
sifat kesetiaan tenaga yang besar, kesehatan yang baik, inisiatif, pertimbangan
yang baik dan kepandaian yang ramah.
c.
Punya
semangat kerja sama yang ramah
d.
Kestabilan
emosi dan tingkat laku yang sopan.
e.
Kesederhanaan
f.
Kemauan
baik dan optimis
3. Wewenang staf
fungsional
Adalah hubungan terkuat yang dapat
dimiliki staf dengan satuan-satuan lini. Chester Bamard mengatakan bahwa
seseorang bersedia menerima komunikasi yang bersifat kewenangan bila memenuhi:
1.
Memahami
komunikasi tersebut
2.
Tidak
menyimpang dari tujuan organisasi
3.
Tidak
bertentangan dengan kepeningan pribadi
4.
Mampu
secara mental dan fisik untuk mengikutinya
Delegasi wewenang adalah pelimpahan
atau pemberian otoritas dan tanggung jawab dari pimpinan atau kesatuan
organisasi kepada seseorang atau kesatuan organisasi lain untuk melakukan
aktivitas tertentu. Pada dasarnya, baik pemimpin yang sukses maupun yang
efektif dalam kepemimpinannya, perlu mendelegasikan wewenang kepada bawahannya
Ada empat
macam model mempengaruhi seseorang
1.
Dengan
menggunakan Wewenang.
2.
Dengan
menggunakan Tekanan dan paksaan.
3.
Dengan
Melakukan Manipulasi.
4.
Dengan
melakukan Kerja sama.
Dalam organisasi yang tidak kalah pentingnya adalah sebuah pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan merupakan suatu pendekatan yang
sistematis terhadap permasalahan yang dihadapi. Pendekatan tersebut menyangkut
pengetahuan mengenai esensi atas permasalahan yang dihadapi, pengumpulan fakta
dan data yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi, analisis permasalahan
dengan menggunakan fakta dan data, mencari alternative yang paling rasional dan
penilaian atas keluaran yang dicapai.
Pengambilan keputusan itu sendiri adalah serangkaian aktivitas
yang dilakukan oleh seseorang dalam usaha memecahkan permasalahan yang sedang
dihadapi kemudian menetapkan berbagai alternatif yang dianggap paling rasional
dan sesuai dengan lingkungan organisasi.
Proses pengambilan keputusan menurut James L. Gibson, dkk adalah sebagai
berikut.
1.
Penetapan
tujuan spesifik serta pengukuran hasilnya.
2.
Identifikasi
permasalahan.
3.
Pengambangan
alternatif.
4.
Evaluasi
alternatif.
5.
Seleksi
alternatif.
6.
Implementasi
keputusan.
7.
Pengendalian
dan evaluasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul
Mukhyi, M dan Saputru, I. (1995). Pengantar manajemen umum. Jakarta: Gunadarma.
Anonim. Bentuk wewenang .www.bimbie.com. Diakses 29
September 2016 pukul 14,10 WIB.
Anonim. (2009). Desain organisasi
dimensi dan bentuknya. www.jurnal-sdm.blogspot.com. Diakses 25 September 2016 pukul 20.00
WIB.
Anonim. Resume pengantar manajemen. www.resume buku
pengantar manajemen.doc. Diakses 29 September 2016 pukul 14.30 WIB.
Anonim.(2014). Wewenang tanggung jawab. www://jurnal-sdm.blogspot.co.id. Diakses 29
September 2016 pukul 14.00 WIB
.
Anonim. (2009). Wewenang.www.ukihary.ngeblogs.com. Diakses 29 September 2016 pukul
14.45 WIB.
Dewi, Sutrisna. (2006). Komunikasi
bisnis. Yogyakarta: ANDI offset
Effendy,
Onong Uchjana. (1989). Psikologi Manajemen. Bandung: Mandar Maju
Herlambang,
Susatyo, S.E. MM.(2013). Pengantar
manajemen “ Cara Mudah Memahami Ilmu Manajemen”. Jakarta : Gosyen
Publishing
Indriyawati,
Rini. Psikologi manajemen. www://indryawati.staff.gunadarma.ac.id Diakses 25
September 2016 pukul 20.10 WIB.
Mulyana,
Dedi., & Rakhmat, Jalaluddin.(2006). Komunikasi antar budaya, panduan
berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya. Bandung: P.T. Remaja
Rosdakarya.
Munandar, Ashar Sunyoto. (2001). Psikologi industri dan organisasi.
Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press)
Naja,Hasanuddin Rahman Daeng.(2004). Manajemen fit and proper test.Yogyakarta:Pustaka
Widyatama
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003.pendidikan dan perilaku
kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Rakhmat, Jalaludin.
(2005). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosda.
Robbin, S dan
Coulter, M. (2004). Manajemen Jilid 1. Jakarta: INDEKS
Robbin, S dan Coulter, M. (2004). Manajemen Jilid 2.
Jakarta: INDEKS
Sarwono,
S. W. (2005). Psikologi sosial: psikologi kelompok dan psikologi terapan.
Jakarta: Balai Pustaka
Tisnawati Sule, Erni. (2004). Pengantar Manajemen.
Bandung: Kencana.
Usman, Husnaini. (2008). Manajemen Teori, Praktik, &
Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
0 komentar:
Posting Komentar